Dalam sebuah artikel di harian terkemuka tanah air, diceritakan bagaimana seorang gubernur di Korea Selatan menyambut rombongan wisatawan asing. Dengan hanya didampingi oleh seorang penerjemah, sang gubernur dengan senang hati menemani perjalanan tamunya sepanjang hari itu. Tidak ada pengawalan ketat dan protokoler, dia justru membaur dan bergabung dengan para wisatawan. Tidak ada mobil dinas mewah yang menyertainya, dia justru menaiki bis yang sama dengan rombongan.
Tidak sekedar membaur dengan para wisatawan, sang gubernur juga berperan sebagai pemandu atau guide. Dia dengan sabar melayani dan menceritakan segala sesuatu yang menarik tentang daerah yang dipimpinnya. Bahkan ketika berhenti di sebuah restoran yang menghidangkan masakan khas Korea, dia dengan entengnya ikut membantu menyajikan makanan untuk rombongan.
Setelah membaca artikel tersebut, saya kemudian terbayang dengan para pemimpin bangsa kita ini. Jika seorang pesiden atau gubernur di Indonesia berkunjung ke suatu daerah, sudah barang tentu pengawalan yang ketat dan protokoler yang rumit akan ikut menyertainya. Bahkan sebelum kedatangannya aparat keamanan sudah melakukan survey untuk memastikan bahwa daerah tersebut aman dan steril untuk dikunjungi.
Tidak hanya itu, kedatangannya juga akan membuat pejabat daerah yang dikunjunginya sibuk melakukan berbagai persiapan. Beragam cara akan mereka lakukan agar penyambutannya tampak meriah dan tidak mengecewakan. Mulai dari membersihkan jalan yang akan dilalui, menyiapkan hidangan dan tempat peristirahatan yang terbaik, hingga membawakan oleh-oleh atau amplop sebagai tanda terimakasih.
Bahkan bila perlu rasa bangga dan terimakasih atas kedatangan pemimpin tersebut ditunjukkan dengan mengerahkan anak-anak sekolah untuk sekedar melambai-lambaikan tangan dan bendera di sepanjang rute perjalanan.
Secara umum, karakteristik pemimpin di Indonesia memang lebih senang dilayani ketimbang melayani. Hal ini berbeda sekali dengan semangat kepemimpinan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu ketika seorang sahabat datang terlambat ke majelis Rasulullah Saw. Saat itu tempat duduk sudah penuh sesak dengan para jamaah. Dia kemudian meminta izin kepada para sahabat yang lain untuk memberikannya tempat duduk.
Akan tetapi tidak ada satu pun sahabat yang bersedia. Di tengah kebingungannya, Rasulullah Saw kemudian memanggilnya. Beliau memintanya duduk di dekatnya. Tidak hanya itu, beliau juga melipat sorbannya dan memberikannya kepada sahabat tersebut untuk digunakan sebagai alas duduk. Dengan berlinang air mata sahabat tersebut menerima sorban itu, namun tidak menggunakannya sebagai alas tempat duduk, tetapi justru menciumnya.
Semangat melayani yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw di atas hendaknya menjadi pedoman bagi pemimpin zaman sekarang. Tidak hanya kepemimpinan dalam konteks kehidupan bernegara tetapi juga kepemimpinan dalam skala yang lebih kecil seperti dalam masyarakat, perusahaan, maupun rumah tangga.
Memulai menjadi pemimpin yang melayani dapat dilakukan dengan cara-cara yang amat sederhana. Misalnya dengan membiasakan diri untuk melakukan sendiri hal-hal yang bisa kita lakukan sendiri. Kita tidak perlu menyuruh bawahan jika hanya untuk melakukan hal-hal kecil seperti mematikan lampu, AC dan lain sebagainya.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan berkunjung ke kantor KIAS Travel daerah Bintaro yang beralamat di Ruko Kebayoran Arcade Cove Blok KA/B3-62 Jalan Boulevard Raya Bintaro Jaya Sektor 7, Pondok Jaya Pondok Aren, Tangerang Selatan. kode Pos 15222. Telpon : 0821-7171-7005.
Website dan Media Sosial:Website : www.kiastravelumroh.comInstagram & Fanspage :@KIAS.TravelTiktok :@kiastravelYouTube : @KIASTRAVEL

