Sejumlah uang yang tak sedikit telah dikeluarkan oleh para jamaah untuk bisa menunaikan ibadah umrah dan/atau haji di Tanah Suci. Mereka juga harus mengurus pasport, mengikuti manasik, menghafal doa-doanya, serta menyediakan sejumlah uang yang telah dikonversi ke Riyal untuk membeli oleh-oleh di sana. Jumlahnya, bisa mencapai jutaan rupiah per orang.
Ketika hari keberangkatan, jamaah menempuh perjalanan ke Bandara Soekarno. Di sana, mereka berkumpul dengan membawa koper, travel bag, dan/atau tas yang berisi pakaian serta kebutuhan sehari-hari lainnya. Satu orang, bisa membawa dua atau lebih koper, travel bag, dan/atau tas. Bahkan diantaranya berukuran besar dan berat. Entah, barang-barang apa saja yang mereka bawa.
Sebagian barang bawaan itu dbawa ke kabin pesawat, sebagian lagi diurus untuk proses bagasi. Di sebuah ruangan di hotel bandara, jamaah pun wajib berkumpul kembali untuk mengikuti pengarahan dari pihak Travel Tazkia. Rangkaian kesibukan tersebut, ditambah lagi boarding, menunggu, sampai antri untuk masuk pesawat, seringkali menyita energi. Syukur jika jadwal keberangkatan pesawatnya tepat waktu. Kalau ternyata molor alias delay, maka jamaah harus ekstra bersabar.
Di dalam pesawat, jamaah masih menunggu pesawat tinggal landas (take off).
Setelah mulai terbang, sekitar 9 jam kemudian, pesawat akan segera mendarat di Bandara King Abdul ‘Aziz, Jeddah. Selama waktu yang panjang itu, di dalam pesawat, jamaah harus kembali bersabar sekaligus menyesuaikan diri dengan situasai di dalam pesawat. Alhamdulillah senadainya bisa cukup tidur di pesawat. Kalau tidak, kondisi fisik bisa semakin melemah.
Setiba di Bandara King Abdul Aziz, jamaah harus tetap bersabar ke luar dan turun agak berdesakan dari pesawat hingga masuk ke bus. Setelah bus sampai dan berhenti di bangunan terminal, jamaah turun ke luar, lalu masuk ke dalam bangunan terminan bandara untuk berkumpul dengan jamaah serombongan. Lagi-lagi, kesabaran menunggu menjadi tuntutan. Proses pemeriksaan pasport di bandara, saat kami tiba, tidak langsung dibuka, sehingga jamaah umrah dari berbagai travel berjubel.
Dalam kepenatan menunggu serta memastikan jumlah jamaah tidak berkurang, saya ingat betul, ada seorang jamaah kami, perempuan yang usianya sekitar 70-an, tampak panik karena ia masih belum menerima travel bag yang ketika di Bandara Soekarno Hatta telah masuk proses bagasi. Berkali-kali ia menanyakan ke saya perihal itu. Padahal, tahapan atau proses pengambilan barang dari bagasi memang waktunya. Tahapan saat itu adalah menunggu proses pemeriksaan pasport.Setelah loket pemeriksaan pasport dibuka, antrian panjang mau tidak mau harus diikuti. Setelah itu, antrian berikunya yaitu pemeriksaan visa terhadap para jamaah oleh petugas di bandara yang kurang atau malah tidak ramah. Begitulah yang sempat kami alami kala itu.
Proses selanjutnya adalah mengambil barang-barang yang telah dikeluarkan dari bagasi. Situasi bisa menjadi kalut ketika seorang jamaah belum menemukan barang-barang bagasinya sedangkan barang-barang para jamaah lainnya ditemukan. Pengalaman ini pernah kami alami, dan syukur Alhamdulillah, akhirnya barang itu ternyata sampai juga ke pemiliknya.
Problem lainnya, ketidakmampuan jamaah berbahasa Arab, membuat komunikasi dengan para pengangkut barang (porters) bisa menimbulkan salah paham atau kendala. Kemampuan jamaah berbahasa Inggris tapi porters-nya tidak mengerti bahasa Inggris, juga menimbulkan persoalan serupa. Apalagi, para porter, suka main angkut tanpa menunggu instruksi pemiliknya. Setelah barang-barang itu mereka bawa ke luar pintu terminal Bandara, mereka akan meminta bayaran.
Setelah itu, para jamaah mesti menunggu jamaah lainnya dan menunggu pengarahan dari ketua tim rombongan dan/atau muthawwif. Apabila perjalanan langsung ke Mekkah untuk melakukan ibadah umrah (bila di pesawat jamaah tidak bermiqot/berihram), maka para jamaah dari Indonesia biasa bermiqot/berihram di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Mereka mencari tempat untuk mandi ihram atau sekadar mencari ruangan yang cukup tersembunyi agar bisa mengenakan pakaian ihram sebagai tanda dimulainya prosesi ibadah umrah. Setelah berwudlu, di sana para jamaah diinstruksikan untuk shalat sunah ihram secara individual. Dari mulai ketika berada di terminal Bandara King Abdul Aziz dengan segala pernak-perniknya itu, memakan waktu hingga berjam-jam. Bisa lebih dari tiga jam atau malah empat jam.
Saya tidak bermaksud untuk menjelaskan lebih jauh perjalanan panjang dan prosesi ibadah umrah ini sampai selesai. Yang ingin saya sampaikan adalah, untuk menjalankan ibadah umrah (termasuk haji tentunya), membutuhkan kekuatan secara fisik dan mental para jamaahnya. Kesabaran yang sungguh-sungguh menjadi tuntutan para jamaah. Apalagi, dari Bandara Jedah, untuk sampai ke Masjidil Haram di Mekkah, jamaah juga harus naik bus rombongan dengan lama perjalanan sekitar 2 jam.Selama di Arab Saudi, perubahan pola hidup dan cuaca yang sangat panas di siang hari, bisa menjadi masalah tersendiri. Potensi gangguan kulit atau kesehatan bisa muncul kapan saja. Ini berarti, para jamaah mesti bisa menyesuaikan diri dengan iklim di sana.
Ketika proses kepulangan ke Tanah Air, jamaah harus kembali mengalami situasi atau kondisi yang sama. Terutama sekali ketika mengikuti serangkaian prosedur yang mesti dijalani saat berada di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, yang menghabiskan waktu berjam-jam. Dari mulai memastikan bahwa barang masing-masing yang ke luar dari bus tidak ada yang hilang – untuk dibawa porters, sampai menunggu di dalam terminal. Dari mulai menunggu atau antri mengenai ticketing, proses bagasi, pemeriksaan pasport, pemeriksaan badan dan barang bawaan yang akan disimpan di kabin pesawat, hingga menunggu untuk memasuki pesawat. Mengenai pemeriksaan badan dan barang bawaan ini dilakukan secara cukup ekstrem. Kami, jamaah laki-laki, pada waktu itu harus membuka sepatu, sabuk, mengeluarkan dompet uang dari saku, sampai melepas jam, dan jaket demi mengikuti prodesur pemeriksaan. Proses menunggu lainnya adalah untuk bisa sampai ke Tanah Air. Yakni mengikuti perjalanan panjang kembali selama di pesawat, sekitar 9 jam.
Manfaatkan Semaksimal Mungkin untuk BeribadahKhusus ibadah umrah, biasanya para jamaah berada di Mekkah dan Madinah hingga tujuh atau delapan hari. Dalam kurun waktu selama itu, sebaiknya para jamaah jangan menyia-nyiakan kesempatan di Tanah Suci dengan aktivitas yang tidak atau kurang berguna. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah, terutama itikaf dan memperbanyak shalat di Masjid.Karena tujuannya untuk menjalankan ibadah umrah, maka lakukan ibadah umrah dengan sebaik-baiknya, menaati segala ketentuan, serta menjauhi semua larangan dalam berumrah.Ikuti setiap agenda ibadah umrah yang sudah ditentukan oleh muthawwif atau penyelenggara umrah. Bahkan, ibadah umrah bisa juga diperbanyak dengan berinisiatif sendiri, atau bisa bersama teman-teman jamaah sekamar, untuk kembali melakukan umrah.
Pada waktu yang tidak mengganggu agenda bersama, jamaah bisa minta bantuan ke muthawif untuk diantar ke tempat ber-miqot yang terdekat, sekitar Mekkah. Selanjutnya, setelah kembali ke Masjidil Haram, jamaah bisa melakukan prosesi berumrah sendiri-sendiri seperti yang telah diikutinya bersama para jamaah lain, atau mengikuti petunjuk/panduan menurut buku yang diberikan oleh pihak Travel kepada semua jamaah. Dari mulai tawat, sai, hingga tahallul. Selain itu, memperbanyak thawaf sunah juga baiknya dilakukan dalam rangka memanfaatkan kesempatan saat berada di Mekkah.
Dengan kesungguhan hati untuk beribadah umrah, disertai upaya memperbanyak ibadah ini dan ibadah lainnya di sana – seraya menjauhi segala hal yang tercela – insya Allah, ibadah umrah kita akan lebih berkualitas. Amiin.Sayangkan, jauh-jauh dari Indonesia ke Arab Saudi, meninggalkan anak, suami, istri, bahkan mengeluarkan biaya besar serta mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, seandainya kita lebih banyak bermain-main atau berhura-hura dari pada beribadah.

