Mencermati berbagai permasalahan yang mengancam keharmonisan bahkan keutuhan hidup suami-istri dewasa ini, salah satu faktor penyebabnya adalah karena mereka disadari atau tidak suka membanding-bandingkan kelebihan suami/istri orang lain dengan kekurangan suami/istri sendiri. Fenomena ini terjadi disebabkan salah seorang dari pasangan/keduanya merasa tidak puas dengan sikap atau perlakuan suami/istri mereka. Ketidakpuasan yang terus-menerus dapat berakumulasi pada perceraian yang dibenci Allah, atau perselingkuhan yang diharamkan agama.
Pahamilah, dalam beragam hal setiap suami/istri berbeda dengan suami/istri orang lain. Begitu pula dengan anda/kita (para suami atau istri). Jangan membanding-bandingkan suami/istri kita dengan pasangan orang lain. Apalagi perbandingan tersebut menohok kepada kelemahan atau kekurangan suami/istri anda/kita.
Ini merupakan masalah sensitif karena bisa menyinggung perasaan dan harga diri seorang suami/istri. Hindarilah sikap yang bernada melecehkan. Termasuk, misalnya, menyinggung perasaan/harga diri suami lantaran penghasilannya jauh lebih rendah ketimbang suami tetangga, suami rekan kerja, atau suami orang lain. Bahkan, adanya fikiran yang mengisyaratkan rasa minder terhadap pekerjaan atau kecilnya penghasilan suami harus dijauhi.
Dalam konteks ini, seandainya pekerjaan suami tidak banyak memberi kemajuan materi, semangati dia dengan cara bijaksana. Tunjukkan pula bahwa anda menerima dan menghargai jerih payahnya dengan penuh keihklasan. Percayalah, sesungguhnya sang suami, dalam benaknya, memikirkan bagaimana caranya agar taraf ekonomi keluarga bisa meningkat.
Pencemoohan terus menerus-menerus terhadap kekurangan suami dalam memberi nafkah pada keluarga, seperti meletakan bom waktu. Sebab pada saatnya, perasaan suami akan semakin tertekan dan tersudutkan. Harga dirinya sebagai lelaki yang sudah berusaha maksimal namun istri tidak menghargainya merasa sangat terhina.
Suami yang mengalami kondisi psikologis semacam ini, cepat atau lambat akan bereaksi keras, memberontak dengan menunjukkan sikap atau perilaku yang mengancam keharmonisan bahkan keutuhan rumahtangga. Karena itu, berusahalah memahami pekerjaan suami. Berikan masukan yang sekiranya dapat membantu.
Dengan turut memikirkan persoalan yang berkenaan dengan pekerjaannya (begitu pula dengan persoalan lainnya) berarti anda (istri) telah menunjukan perhatian dan kepedulian terhadap suami. Namun yang harus diperhatikan, lakukan secara baik dan bijaksana. Pandai-pandailah menjaga perasaan suami. Jadilah istri yang menyenangkan dalam pandangan suami sebagaimana Nabi Saw bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. (HR. Muslim).
Seorang suami, juga mesti menunjukan penghargaan terhadap peran istri. Dukung dan doronglah ia dalam menjalankan perannya mengurusi keluarga. Jika waktu luang, bantulah tugas-tugas istri di rumah seperti menjaga anak, dan yang lainnya. Sebab, tatkala di rumah, pekerjaan seorang istri ternyata jauh lebih banyak dibandingkan dengan pekerjaan seorang suami. Ingatlah salah satu hadits Nabi Saw, bahwa lelaki terbaik adalah suami yang terbaik sikap dan perilakunya terhadap istri.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan berkunjung ke kantor KIAS Travel daerah Bintaro yang beralamat di Ruko Kebayoran Arcade Cove Blok KA/B3-62 Jalan Boulevard Raya Bintaro Jaya Sektor 7, Pondok Jaya Pondok Aren, Tangerang Selatan. kode Pos 15222. Telpon : 0821-7171-7005.
Website dan Media Sosial:Website : www.kiastravelumroh.comInstagram & Fanspage :@KIAS.TravelTiktok :@kiastravelYouTube : @KIASTRAVEL

