Pelaksanaan ibadah haji dan umrah, diawali dengan mengenakan pakaian ihram dan dilanjutkan dengan niat. Mengenakan pakaian ihram termasuk salah satu rukun ibadah haji/umrah. Sedangkan berniat ihram adalah wajib.
Orang yang tidak mengenakan pakaian ihram, tidak syah haji/umrahnya. Namun, seseorang yang tidak berniat ihram (karena lupa) masih bisa diteruskan ibadahnya asalkan bersedia membayar denda (dam).
Pakaian ihram lelaki berupa dua helai kain yang tidak dijahit. Sehelai dipakai untuk menutupi bagian bawah; antara pusat dan lutut. Sehelai lagi dibuat selendang. Bagi perempuan, kain ihram berwarna putih ini, harus menutupi semua badannya kecuali muka dan telapak tangan.
Berdasarkan asal maknanya, ihram adalah mengharamkan atau melarang. Dalam konteks ibadah haji/umrah, ihram berarti suatu keadaan (perkara tertentu) yang dilarang atau diharamkan pada orang yang sedang mengerjakan haji/umrah: bermula ketika berniat mengerjakannya, berakhir ketika tahallul (bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan sa’i).
Mengenakan pakaian ihram tidak sebatas sebagai rukun haji/umrah tanpa makna. Mengenakan pakaian ihram dan berniat ihram merupakan simbolisasi yang mengandung pesan-pesan moral dan spiritual. Paling tidak, ada dua makna yang terkandung dari filosofi ihram: kesucian (purity) dan kesamaan (similarity).
Kesucian ihram tercermin dari warna (putih) pakaian yang dikenakan. Sebab putih merupakan falsafah kesucian, kebersihan. Dalam ihram juga harus menjaga kesucian niat atau keinginan terhadap sesuatu, selain mengharap keridhaan Allah Swt. Kesucian niat sejatinya tetap melekat dalam hati; tidak sebatas ketika berihram atau berhaji/umrah, melainkan pula saat menjalani kehidupan sehari-hari (pasca haji/umrah).
Simbolisasi lain dari ihram adalah kesamaan. Kesamaan yang dimaksud bukan cuma tercermin dari model dan warna pakaian, tetapi kesamaan dalam niat serta berbagai perkara yang hendaknya dilakukan dan dijauhi (terlarang) selama berhaji/berumrah. Semua kesamaan tersebut semata-mata demi mengikuti perintah Allah Swt dan tuntunan Rasulullah Saw. Namun, mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya di kala menunaikan ibadah haji/umrah, melainkan harus diejawantahkan dalam kehidupan pasca haji/umrah.
Kaum muslimin yang tengah atau telah berhaji/umrah hendaknya memahami makna kesamaan ini. Kesamaan yang hakikatnya bermuara dari landasan iman dan takwa. Jadi, sungguh keliru seandainya perbedaan tingkat pendidikan, profesi, jabatan, status, atau kelas sosial dan ekonomi, membuat seorang muslim merasa berbeda dengan muslim lainnya, sehingga kesenjangan pun terjadi. Setiap muslim seharusnya menunjukkan kesamaan sebagai sesama muslim. Bukan malah sengaja memperlihatkan “perbedaan yang hanya didasari atribut-atribut duniawi tadi.
Begitu pula dengan predikat haji atau hajjah bagi orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Ada saja, bahkan tidak sedikit dari mereka yang senang atau malah ingin dipanggil “haji/hajah. Alasannya, mungkin karena dalam kultur kita, predikat haji atau hajah menjadi suatu atribut yang dianggap melambangkan tingginya tingkat kealiman atau kesalehan, status sosial atau ekonomi seseorang. Jika para alumni haji ingin dipanggil haji atau hajah dengan alasan seperti itu, maka hal ini telah menyalahi pesan moral dan spiritual yang terkandung dari makna ihram. Baik pesan mengenai makna kesamaan maupun kesucian.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan berkunjung ke kantor KIAS Travel daerah Bintaro yang beralamat di Ruko Kebayoran Arcade Cove Blok KA/B3-62 Jalan Boulevard Raya Bintaro Jaya Sektor 7, Pondok Jaya Pondok Aren, Tangerang Selatan. kode Pos 15222. Telpon : 0821-7171-7005.
Media Sosial:Instagram & Fanspage :@KIAS.TravelTiktok :@kiastravelYouTube : @KIASTRAVEL

