
Gibraltar adalah sebuah tempat atau nama yang melekat dengan sejarah awal mula kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol). Sebagai sebuah tempat, Gibraltar terletak di bagian barat daya Eropa, tepatnya di selatan pesisir Spanyol. Ia juga merupakan selat yang menghubungkan Samudra Atlantik Utara dan Laut Mediterania.
Penamaan “Gibraltar” berasal dari kata gibral dan tar. Gibral bermaksud “jabal” (bahasa Arab) yang berarti bukit atau gunung”. Perkataan tar diambil dari nama Tariq bin Ziyad, panglima perang di masa kekhalifahan Walid Ibnu Abd al-Malik di Damaskus (705-715 M). Thariq bersama pasukannya berhasil menyeberangi selat penghubung antara Samudera Atlantik dan Laut Mediterania dan mendarat di suatu wilayah di sekitar perbukitan (jabal). Selat dan wilayah inilah yang kemudian dikenal dengan nama “Gibraltar” (Jabal Tariq). Bermula dari Gibraltar, pembebasan Andalusia (tahun 711 M) dilakukan.
Kemenangan Islam di Andalusia mempermudah dakwah Islam selanjutnya ke benua Eropa. Andalusia memang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke dunia Barat hingga akhirnya Barat terbebas dari kegelapan, menuju kemajuan. Khusus mengenai kejayaan Islam di Andalusia, telah dibahas pada Mimbar IKAH edisi 2/I/2010. Kejayaan Islam Andalusia tinggal kenangan. Begitu pula dengan Gibraltar yang namanya kini seolah hanya menjadi saksi bisu bagi ketangguhan pasukan kaum muslimim pimpinan Tariq bin Ziyad saat memasuki wilayah Andalusia dan membebaskannya dari kegelapan.
Seperti halnya Andalusia (sekarang Spanyol), Gibraltar telah menjadi pemerintahan tersendiri yang memiliki kedalaman sekitar 300 meter, dan lebar sekitar 14 kilometer pada sisi tersempitnya, merupakan selat yang berada di posisi strategis. Kapal-kapal yang melaju dari Atlantik ke Mediterania dan kebalikannya, harus melewat selat ini. Banyak orang yang melintas dari Eropa ke Afrika dan sebaliknya, melewati selat tersebut.
